Aku sedang mengendarai mobil di kompleks perumahanku sore itu.
Ketika itu, aku mendengar keramaian dari lapangan kompleks.
Aku menghentikan mobilku dan turun sebentar untuk melihat.
Di lapangan itu ternyata ada banyak anak tetangga yang sedang bermain bisbol.
Aku memutuskan untuk menonton mereka sebentar dan duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan.
Ada dua tim yang sedang bertanding, tim biru dan tim merah, dan mereka semua adalah anak-anak kecil.
Pitcher tim biru melempar bola dan pemain tim merah berhasil memukulnya.
Pukulannya tidak kencang dan malah tepat mengarah kea rah pitcher tim biru yang tadi melempar.
Aku mengira anak yang menjadi pitcher itu tadi pasti bias menangkapnya, tetapi ternyata tidak.
Bolanya terus melaju dan jatuh ke tanah, menggelinding, melewati kolong salah seorang pemain tim biru dan gagal ditangkap pula oleh pemain tim biru berikutnya.
Pada akhirnya, bola pelan itu justru berhasil memberi angka penuh untuk tim merah.
Para pemain tim merah bersorak gembira, “Horee, satu angka lagi !!”
Melihat hal itu, terheranlah aku dan bertanya pada seorang anak perempuan ari tim biru, “Hei nak, berapa skornya sekarang?”
“Kami kalah 14 – 0,” jawabnya.
Aku pun kaget mendengarnya, “hee, benarkah?”
Tetapi anak kecil itu tetap tersenyum ceria dan aku sangat terheran olehnya.
“Tetapi kalian tidak tampak putus asa tuh..”
“Putus asa? Kenapa mesti putus asa?” tanya anak kecil itu terheran-heran, “kami hanya belum mendapat giliran menang! Itu saja. Hahaha,” balasnya sambil tertawa ceria.
Aku kaget mendengar perkataan anak itu dan hanya bisa tersipu malu menatapnya.
Sambil tersenyum, kuperhatikan lagi permainan mereka dengan penuh semangat, sambil menunggu hari menjadi gelap …
“Dalam setiap pertandingan di dunia ini, ada 50% kemungkinan untuk menang, dan 50% kemungkinan untuk kalah.
Apapun yang kita lakukan, kita memulai pertandingan dengan setidaknya 50% kemungkinan untuk menang.”
Ketika itu, aku mendengar keramaian dari lapangan kompleks.
Aku menghentikan mobilku dan turun sebentar untuk melihat.
Di lapangan itu ternyata ada banyak anak tetangga yang sedang bermain bisbol.
Aku memutuskan untuk menonton mereka sebentar dan duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan.
Ada dua tim yang sedang bertanding, tim biru dan tim merah, dan mereka semua adalah anak-anak kecil.
Pitcher tim biru melempar bola dan pemain tim merah berhasil memukulnya.
Pukulannya tidak kencang dan malah tepat mengarah kea rah pitcher tim biru yang tadi melempar.
Aku mengira anak yang menjadi pitcher itu tadi pasti bias menangkapnya, tetapi ternyata tidak.
Bolanya terus melaju dan jatuh ke tanah, menggelinding, melewati kolong salah seorang pemain tim biru dan gagal ditangkap pula oleh pemain tim biru berikutnya.
Pada akhirnya, bola pelan itu justru berhasil memberi angka penuh untuk tim merah.
Para pemain tim merah bersorak gembira, “Horee, satu angka lagi !!”
Melihat hal itu, terheranlah aku dan bertanya pada seorang anak perempuan ari tim biru, “Hei nak, berapa skornya sekarang?”
“Kami kalah 14 – 0,” jawabnya.
Aku pun kaget mendengarnya, “hee, benarkah?”
Tetapi anak kecil itu tetap tersenyum ceria dan aku sangat terheran olehnya.
“Tetapi kalian tidak tampak putus asa tuh..”
“Putus asa? Kenapa mesti putus asa?” tanya anak kecil itu terheran-heran, “kami hanya belum mendapat giliran menang! Itu saja. Hahaha,” balasnya sambil tertawa ceria.
Aku kaget mendengar perkataan anak itu dan hanya bisa tersipu malu menatapnya.
Sambil tersenyum, kuperhatikan lagi permainan mereka dengan penuh semangat, sambil menunggu hari menjadi gelap …
“Dalam setiap pertandingan di dunia ini, ada 50% kemungkinan untuk menang, dan 50% kemungkinan untuk kalah.
Apapun yang kita lakukan, kita memulai pertandingan dengan setidaknya 50% kemungkinan untuk menang.”